“Beri Aku 10 Pemuda, Maka Akan Kuguncang Dunia!” – Ir. Soekarno
aktivis6
Sungguh taka asing lagi terdengar, dan memang tak bisa kita pungkiri bahwa pemuda melahirkan sejarah penting dalam lini masa peradaban bangsa ini. Banyak jasa-jasa pemuda yang sampai saat ini tidak bisa kita lupakan, dari tuntutan proklamasi Rengasdengklok hingga lahirnya era reformasi 1998. Banyak dari pemuda memainkan peran disana, dan barangkali saat ini sosok pemuda pembawa identik dengan mahasiswa.
Peran mahasiswa yang (katanya) sebagai agent of change, menurut saya, kini sudah semakin tergerus seiring dengan melajunya era teknologi informasi. Berangkat dari kisah saya dan beberapa kawan di kampus yang berkecimpung di berbagai wadah organisasi, terdapat satu permasalahan yang sama, meskipun latar belakang dan tujuan organisasi kami berbeda. Masalah itu tak lain adalah minimnya minat mahasiswa untuk mengambil peran dalam ruang lingkup organisasi.
Kira kira apa permasalahannya? Apakah jumlah mahasiswa terampau sedikit? Tidak, kalu diambil contoh kampus saya meliki lebih dari 7000 mahasiswa , yang setidaknya 5000 diantaranya berada pada masa aktif. Kalau begitu, Apakah publikasi kami kurang? Saya rasa tidak juga. Barangkali tidak semua mahasiswa mendapatkan informasinya,tapi yang jelas kami telah berusaha menyebarkanya melalui baliho, poster, sms, jejaring sosial, whatsApp, Line, dan metode-metode lainnya. Lalu apakah permintaan organisasi kami banyak? Sangat tidak sulit untuk mendaftar di organisasi kami, dan jumlah permintaan juga hanya berapa puluh saja.
Sulit mengatakannya, tapi menurut saya mahasiswa sekarang lebih dan bahkan jauh lebih apatis. Tentu akan sangat miris jika kita membayangkan pada zaman orde baru dahulu begitu sulitnya mahasiswa untuk bergerak dan berdiskusi, apalagi berorganisasi dalam sebuah wadah yang legal. Pastinya akan sangat kecewa apabila Soe Hoek Gie melihat perjuangannya dalam melegalkan kebebasan berpendapat, kini malah disia-siakan oleh generasi-generasi penerusnya.
Jika kita mengacu pada pembagian mahasiswa menjadi hedonis, akademis, dan aktivis, maka grafik hedonis saat ini sedang mengalami kenaikan, akademis cenderung stabil, dan aktivis mengalami penurunan. Tampak bahwa kaum hedonis kian banyak dengan ramainya acara-acara lawak dan konser yang tak manfaat, kaum akademis cukup stabil dengan masih ramainya peminat dalam rekruitasi laboratorium dan acara-acara seminar yang mengembangkan skill individu, sedangkan aktivis? Seperti yang saya sebutkan di awal.
Entah kenapa minat mahasiswa untuk berkontribusi memberikan kebermanfaatan melalui organisasi kini sangat minim. Banyak yang lebih senang duduk di depan televisi tertawa tidak karuan dibanding bersusah-susah aksi menyuarakan kebenaran. Banyak pula yang lebih mementingkan kemampuan individu semata dan menutup mata pada lingkungan. Ada pula yang takut IP turun padahal justru banyak mengisi waktu dengan bermain game dan update status.
Siapakah yang akan mengisi posisi-posisi penting parlemen, legislatif, dan kursi kepemimpinan di masa depan kalau bukan pemuda sekarang? Tapi apakah generasi-generasi lemah yang akan dijadikan tumpuan bangsa ini? Untukmu pemuda, untukmu para mahasiswa–mari bergerak, mari peduli lingkungan. Sesungguhnya peradaban Indonesia membutuhkan pejuang-pejuang tangguh, bukan generasi apatis yang minim kepekaan.

manukahoneybee
Terhitung sejak saya menuliskan huruf pertama pada tulisan ini, kurang lebih 11 hari lagi pesta demokrasi terbesar negeri ini akan dihelat. Bersamaan dengan itu, hampir di seluruh media massa, atau mungkin keseluruhan darinya, semakin ramai dengan berita-berita aktual seputar kampanye di berbagai penjuru Indonesia. Kita juga bisa melihat bermacam-macam warna bendera partai beserta wajah-wajah caleg bertebaran di sepanjang ruas jalan. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita menentukan pilihan? Atau barangkali kita masuk ke dalam golongan orang yang tidak percaya lagi pada calon pemimpin bangsa ini?
Jika kita lihat, angka golput semenjak pemilu 2004, lalu ke 2009 mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan pada pemilu 2009 persentase golput mencapai 39.1%. Mengalahkan suara dari partai manapun, termasuk Partai Demokrat yang notabene sebagai pemenang saat itu. Pertanyaan kedua, Apa yang menyebabkan seseorang berfikir untuk memilih golput?
Saya akan mencoba berangkat dari sebuah cerita. Di suatu zaman hiduplah seorang raja adil yang memerintah suatu negeri yang bisa dikatakan cukup sejahtera. Dikala itu, kondisi negara sedang berada di penghujung musim panen dan hendak memasuki musim paceklik pangan. Sang raja yang adil tersebut dengan cerdas mengumpulkan rakyatnya di sebuah lapangan terbuka untuk berdialog.
Singkat cerita rakyat yang telah berkumpul diperintahkan untuk menaruh madu sebanyak satu sendok, hanya satu sendok madu setiap harinya di sebuah kuali besar di tengah kota. Nantinya madu ini akan digunakan sebagai cadangan makanan saat masa paceklik.
Akhirnya setiap hari rakyat berbaris untuk memasukkan sesendok madu ke dalam kuali raksasa tersebut. Diantara ribuan rakyat, tersebutlah seorang laki-laki yang tergolong kurang mampu, sebut saja ia otong. Si Otong merenung dan berdialog pada dirinya sendiri, ia memikirkan kehidupannya yang sehari-harinya sudah sulit mendapatkan makanan, dan sekarang diminta mengumpulkan madu setiap hari. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengganti madu tersebut dengan sesendok air saja. Toh, cuman saya yang melakukan hal ini, pasti gak akan ngaruh sama madu yang satu kuali besar. Begitu pikirnya.
Setelah sekian lama mengumpulkan madu untuk cadangan makanan, tibalah saatnya kuali besar itu diambil dan dibagikan kembali kepada rakyat. Sang raja memerintahkan pengawal untuk membawa kuali raksasa tersebut ke hadapan rakyatnya dan membukanya. Alangkah kagetnya wajah pengawal ketika ia membuka tutup kuali tadi. Rajapun heran dengan sikap pengawalnya dan memerintahkan untuk menumpahkan seluruh isi kuali tadi. Apa yang terjadi? Benar saja, satu kuali besar berisi air tumpah di hadapan rakyat.
Sebagian dari kita mungkin malas untuk mencoblos, malas untuk mencari tahu partai yang pantas dipilih, dan seakan sudah putus harapan terhadap caleg-caleg yang ada. Namun ketahuilah kawan, satu suara kita adalah setitik harapan bagi bangsa ini. Jangan sampai pada akhirnya kita tidak bisa mendapatkan manisnya madu karena mayoritas beranggapan golput lebih baik. Menurut pandang saya, masih ada partai yang pantas dipilih, dan masih ada pemimpin yang cinta rakyat juga negeri ini. So, bersegeralah tentukan pilihanmu dan jangan lupa dating ke TPS tanggal 09 April nanti.